Surat Untuk Lionel Messi

Dear Lionel Messi biasa dipanggil Mesi

Hai Mesi, perkenalkan namaku ivan biasa dipanggil ipan. Boleh aku menulis surat buatmu, boleh lah. Kalo nggak boleh berarti kamu pelit.

Sebelum ke pokok masalah, marilah kita berbasa basi sejenak. Tahukah kamu wahai Lionel Andres Messi bahwa namamu sering disebut di indonesia. Kamu jadi idola banyak orang disini, banyak orang sering menggunakan jersey bertuliskan namamu, baik itu di jersey ori, kw super dan abal abal. Walaupun begitu kamu jangan senang dulu, karena orang sini sering salah mengucapkan namamu. Kamu sering disebut SiMesi. “Siapa yang ngegolin ceng ?” “ Simesi anying, edan siah meded golna”. Tapi gak apa apa lah Mes, maklum lidah indonesia, lidah tempe.

Sudah basa basinya mari kita ke pokok isi surat. Setelah final piala dunia kemarin, namamu jadi kontroversi setelah kamu dinobatkan jadi pemain terbaik piala dunia. Bagaimana tidak, sebagai messiah kamu gagal membawa argentina jadi juara dunia. Messiah itu dalam bahasa ibrani artinya juru selamat, Hamba Yahweh yang akan membawa penyelamatan kepada bangsa bangsa. Tapi kemarin kamu hanya membawa keselamatan bagi bangsa Jerman, bukan Argentina. Tapi gak apa apa Mes, kasian Jerman baru 4 kali juara dunia. Argentina mah nyantei kan Mes, gak ambius kan.

Aku tahu sungguh berat menjadi dirimu Mes, diidolakan banyak orang, dicap sebagai pemain terbaik dunia, ditasbihkan sebagai messiah dan titisan maradona (ih mau maunya Mes disamain sama Maradona, udah gendut cebol lagi Mes). Begitu banyak tuntutan orang terhadapmu. Kamu harus selalu tampil baik, tampil prima dan selalu cetak banyak gol. Kamu tidak boleh cedera walau lawan men-tekle-mu habis habisan. Kalaupun kamu cedera kamu harus tetap main dan tetap cetak gol. Kalau tim mu kalah bertanding, kamu orang pertama yang patut disalahkan. Yang paling parah di playstation, kamu dimainin sama anak kecil, skill kamu jadi jelek, dan kamu bakal terus dimainkan, walaupun kondisi kamu lagi tidak bugar. Sungguh kejam dunia ini padamu Mes, terutama di rental PS.

Yang aku ingin ku ucapkan padamu saat ini adalah woles aja Mes, jangan hiraukan cibiran orang lain. Kamu terlalu keren untuk menanggapi para haters. Kamu juga tak perlu capek capek menjelaskan bahwasanya untuk menjadi pemain terbaik itu tak musti juara, yang penting banyak iklan. Ngapain juara dunia tapi job dikit, ciandelo. Orang-orang itu cuma peduli sama hasil Mes, buat mereka proses itu gak penting. Kamu juga gak perlu capek capek ngasih bukti statistik kalau kamu itu lebih bagus dari James Rodriguez, Robben, dan Muller. Gak perlu Mes, soalnya pusing Mes bacanya, angka semua.

Pokoknya tenang aja Mes, si Ronaldo aja pulang kampung di babak penyisihan tenang-tenang aja, job iklan tetep banyak. David luiz walau timnya bubuk 7-1 tetep aja transfernya mahal. Rezeki mah udah ada yang ngatur Mes. Di tahun 2018 nanti umur kamu baru 31 Mes, Insya Allah kalo Argentina lolos piala dunia lagi ada kesempatan juara Mes. Gak tanggung tanggung Mes, peluang juaranya 1 banding 32. Pokoknya asal Mesi rajin berlatih nanti Mesi bisa sekuat macan. Mesi juga jangan sombong sama penggemar yah, kalo ada yang minta foto kasih aja, udahnya tagih 20 rb. Dan yang paling utama jangan tanggapi kritikan orang, terutama orang Indonesia. Mereka mah da bisa apa atuh Mes, hobinya ngritik ajah. Liat aja prestasi timnasnya Jeblok.

Sekian surat dari saya Mes, semoga Mesi makin bijak terhadap segala pro kontra. Tetap makan sozis sonays dan biarkan Tuhan bekerja karena semua akan indah pada dewi pertiwi. Dan satu hal lagi, ada sebuah kabar gembira buat Mesi, Kulit Manggis udah ada ekstraknya. Bravo Mesi, Salam Olahraga.

Pis Lov and Gaul

Killers ; Duo Pembunuh Psycho

Teaser-Poster-Final_zpsfb8ff7991

Kehidupan itu bukanlah sebuah berkah, jika diamati lebih dalam, kehidupan dunia adalah neraka. Berbagai kesedihan dan masalah menghampiri setiap saat. Banyak orang-orang yang membuat hidup kita rumit, satu satunya cara agar bahagia adalah dengan “membunuhnya”.  Setiap manusia punya sisi gelap, punya keinginan membunuh, tapi tak semua orang berani melakukannya. Bagi yang tak punya nyali, cukup menikmatinya saja lewat video atau film. Dan bagi yang bernyali membunuh sambil merekamnya adalah sebuah keasyikan tersendiri.  Hanya yang kuat yang memiliki segalanya, dan buat yang lemah semua miliknya akan terenggut.

Film Killer ini bercerita tentang seorang eksekutif muda asal jepang bernama Nomura Shuhei (diperankan oleh Kazuki Kitamura) yang menyimpan sisi gelap menyedihkan. Traumatis masa lalu membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin, mendokumentasikannya dan mengunggahnya di sebuah situs berbagi video. Kesenangannya bertambah ketika banyak orang yang menyukai video nya. Perilaku membunuhnya mengingatkan kita pada EdGein,  sosok pembunuh psycho asal amerika yang juga menjadi inspirasi tokoh tokoh psycho-killer macam Norman Bates, Leather Face, dan Hannibal Lecter. Tak ada belas kasihan, wanita wanita super seksi pun mati mengenaskan di tangan Nomura.

Di belahan bumi lain, di Indonesia tepatnya, ada Bayu Aditya (Oka Antara)  jurnalis ambisius yang karirnya di ambang kehancuran gara-gara seorang politikus. Setelah melihat video pembunuhan Nomura, Bayu menemukan sisi lain dalam dirinya. Keduanya lalu terhubung dalam ikatan yang rumit. Bayu depresi, tertekan oleh perekonomiannya yang morat marit dan juga perceraiannya dengan Dina (Luna Maya). Dalam suatu kondisi serba tertekan, Bayu pun menjadi pembunuh dan merekam setiap pembunuhannya. Ia kemudian mengunggah video tersebut dan menjadi kecanduan seperti Nomura. Tak disangka video pembunuhan Bayu menuai reaksi yang lebih banyak dibanding Nomura. Kini mereka berdua menjadi rival.

Bicara soal film indonesia bergenre thriller, Mo Brothers (Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel)  memang juaranya. Duo Mo ini menunjukkan taringnya lewat film pendek berjudul Macabre, yang di extend menjadi Rumah Dara. Selain itu mereka terlibat juga dalam film omnibus bergenre serupa dalam film ABC of Death (L for Libido) dan VHS 2 (Safe Haven). Mereka berdua bisa dibilang Tarantino – Rodriguez nya Indonesia.

Di film Killers ini, Timo dan Kimo tetap pada kodratnya sebagai sutradara yang mengumbar cipratan darah. Hanya saja tensi ketegangannya dibuat naik turun, tak seperti Rumah Dara yang tensi ketegangannya tak pernah turun. Akting Kazuki dan Okan pun terasa jomplang bedanya, Kazuki begitu menikmati perannya sebagai Nomura sang pembunuh berdarah dingin sementara Okan seperti kagok memerankan tokoh Bayu. Penonton lebih menyukai scene pembunuhan Nomura daripada Bayu, karakter Bayu terlalu bodoh dan dangkal sebagai pembunuh, ia tak layak menjadi rival Nomura. Nomura berhasil merebut hati penonton dengan pembunuhan yang lebih sadis menggunakan pisau, cutter, palu, kampak, dan tongkat bisbol. Sementara Bayu melakukan pembunuhan dengan cara kurang sexy, pistol. Bagaimanapun membunuh dengan senjata tajam, gergaji mesin, dan tongkat bisbol lebih menusuk indera kita dibanding pistol. Kematian yang perlahan dan tak buru-buru menciptakan ketegangan tersendiri dalam sebuah film Thriller.  Atau mungkin kita masih ingat ucapan Mad Dog di film The Raid “Pake tangan kosong lebih greget”. Lepas dari kekurangannya, saya pikir film ini tetap asyik untuk dinikmati karena darah bercipratan dimana mana. Waspada juga saat menonton film ini, siapa tahu ada pembunuh di sekitar Anda.

Belajar Dari Kepemimpinan Captain Philips

Richard Philips (diperankan oleh Tom Hanks), pria berusia 50 tahunan yang bekerja sebagai captain di kapal cargo Maersk Alabama. Seorang pria minim ekspresi, praktis, berjanggut abu, mantan supir taksi di Boston, memiliki seorang istri dan dua anak menjelang usia kuliah. Pada 7 April 2009 membawa 17.000 metrik ton kargo , dan 5.000 metrik ton barang-barang bantuan menuju Kenya, Somalia, dan Uganda. Kapal tersebut berangkat Oman menuju Mombasa (kenya) dan mau tidak mau harus melewati Teluk Aden Somalia dimana tempat tersebut terkenal akan pembajak-pembajak laut somalia.

Kemiskinan dan perang saudara adalah faktor utama kenapa pembajakan di laut somalia ini marak. Nelayan-nelayan yang biasa menangkap ikan terpaksa mengacungkan senjata demi mendapat sejumlah uang. Mereka dipaksa membajak kapal kapal asing yang melintas dan menyetor hasil rampasan kepada bos-bos pemberontak yang memiliki akses senjata dan militer di Somalia. Ketidakstabilan politik dan rezim penguasa menghasilkan generasi generasi pembajak bengis di Somalia.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini membawa kita pada dimensi yang bersebrangan, kapitalisme negara negara maju dan kemiskinan negara dunia ketiga. Ini seperti perang idealisme dalam bentuk mini dimana si miskin menuntut haknya kepada si kaya. Bahwa si kaya harus membayar upeti ketika mereka melewati wilayah si miskin.

Tom Hank menjadi lebih manusiawi di film ini dibanding perannya saat di film Cast Away, saya pikir ini peran terbaiknya setelah forrest gump. Alur yang disuguhkan Paul Greengrass sang sutradara pun tidak terburu-buru, tidak banyak action dan desing peluru. Greengrass berhasil membuat film ini seperti film Thriller lamban, tapi mampu membuat ketegangan dari awal sampe akhir. Lepas dari aksi kejar-kejaran yang dramatis dan juga kehebatan akting Tom Hanks, nampaknya kita patut belajar dari kepemimpinan sang aktor utama Captain Philips. Dalam perannya yang memukau sebagai Captain Philips, Hanks berhasil menunjukkan pada kita semua bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik.

Sebelum perjalanan melewati laut Somalia, Philips sadar ia akan melewati daerah berbahaya, karena itu ia mengecek semua detail di Kapal, mencari jalur teraman, mengunci semua pintu yang memungkinkan masuknya para perompak, dan juga mempersiapkan para kru nya dalam menghadapi keadaan terburuk. Pemimpin harus selalu punya perencanaan dan siap saat menghadapi segala kondisi terburuk.

Sebagai nakhoda kapal, Philips menunjukkan pada kita akan pentingnya sensitifitas dan keputusan yang tepat saat situasi buruk menimpa. Saat ada dua kapal yang mendekat, ia sadar bahwa itu bukan kapal nelayan biasa, karena itu ia mengirimkan tanda bahaya ke otoritas yang berwenang. Philips juga mengecoh perompak seolah olah dia sedang berbicara dengan angkatan laut Amerika yang siap menembak para perompak. Tipuan itu berhasil membuat perompak mundur sementara. Philips pun melakukan perlawanan dengan menembakkan flare ke arah perompak saat mereka mencoba naik kapal. Dengan sumber daya terbatas dan tanpa senjata, Philips berhasil membuat sulit para perompak.

Setelah perompak berada di kapal ini menjadi sebuah adegan yang dramatis. Sebuah kisah tentang kapal dengan dua kapten. Negosiasi menjadi hal yang dicontohkan Philips, ia biarkan sang perompak menjadi Captain tapi kendali tetap padanya. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban dari kru kapal. Konfrontasi antara Philips dan pemimpin perompak bernama Muse (yang diperankan sangat baik oleh pendatang baru Barkhad Abdi) sangat alot dan memukau, ” Lihatlah mataku – aku kapten sekarang ” Seloroh Muse. Perebutan kekuasaan antara kedua orang ini menjadi simbol dari luasnya tema film yang menggambarkan cross culture, keduanya digambarkan sebagai pion dalam permainan catur yang jauh lebih besar di mana satu sama lain tidak memiliki kontrol apapun. Di bagian ini kita belajar tentang kemampuan negosiasi dan ketenangan seorang pemimpin.

Dalam film inipun kita bisa belajar tentang pentingnya sebuah Trust. Ada momen dimana para kru dalam kondisi down, Philips meyakinkan para kru bahwa mereka akan baik baik saja selama mengikuti arahannya. Philips juga mempercayakan ruang mesin kepada para kru nya agar sebisa mungkin tidak jatuh ke kekuasaan perompak. Ketika pemimpin dan anak buah sudah memiliki rasa saling percaya satu sama lain maka masalah seberat apapun bisa teratasi, hal ini dibuktikan dengan tidak jatuhnya ruang mesin ke tangan perompak. Sementara di pihak lain, para perompak tidak memiliki Trust satu sama lain, mereka saling curiga dan menganggap teman mereka sendiri sebagai musuh.

Sacrifice and Hope. Di bagian akhir film Philips mengajarkan kita akan sebuah pengorbanan dan pengharapan. Ia rela menjadi sandera asalkan para krunya selamat. Namun dalam keadaan serba sulit menjadi tawanan perompak dan terombang ambing dalam sekoci sempit, ia tetap berharap bisa pulang dengan selamat, berkumpul kembali dengan keluarganya. Philips menunjukkan dirinya adalah seorang pahlawan yang jujur, penuh ​​keberanian yang terjebak di sebuah kondisi dimana keputusasaan bukanlah sebuah pilihan.Pemimpin yang baik memang harus rela berkorban bagi yang dipimpinnya, ia juga tak boleh putus asa dalam setiap keadaan sulit. Apalah artinya manusia tanpa harapan.

Mungkin apa yang saya lihat dari Captain Philips terlalu berlebihan, mungkin saja pada kenyataannya dia tidak sehebat itu. Philips tetaplah manusia normal, ia juga bisa shock dan menangis saat diselamatkan Angkatan Laut. Tapi apa salahnya kita mengambil pelajaran dari film inspiratif ini. Negara ini harus diakui minim suri tauladan, para penguasanya sibuk memperkaya diri. Buat saya film ini sangatlah bagus, film yang mampu membuat perenungan setelah menonton. Semoga para calon pemimpin dan calon wakil rakyat menonton film ini. Semoga kita dipimpin oleh para Philips, atau kita sendiri yang menjadi Captain Philips baru.

The Wolf Of Wall Street: Serigala itu bernama Uang

I always wanted to be rich,” begitu seloroh Jordan Belfort (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) ketika ditanya akan visi misinya. Menjadi kaya jauh lebih hebat daripada menjadi gangster, gangster bisa kita beli asalkan punya uang. Menjadi kaya adalah menjadi tuhan, persetan dengan semua omong kosong, dengan uang kebenaran bisa dibeli.

Selamat datang kembali di film Martin Scorsese, The Wolf of Wall Street, datang dengan hembusan kemarahan di punggungnya. Selama kurang lebih 50 tahun berkarir di perfilman, saya pikir film ini juga akan menjadi salah satu mahakarya buatannya. Seperti diketahui, film The Wolf of Wall Street merupakan proyek kelima Martin Scorsese bersama Leonardo DiCaprio. Sebelumnya, keduanya juga pernah bekerjasama lewat empat film lainnya seperti ‘Gangs of New York’, ‘The Aviator’, ‘The Departed’, hingga ‘Shutter Island’. Tapi kalau boleh berkata, lupakan ke empat film terdahulu, lupakan juga acting Leo di Titanic. Karena di film ini Leo benar benar menjadi seorang serigala, serigala pemilik uang, bukan si kere yang mencoba naik kapal mewah ke New York. Akting Leo di film ini ratusan kali lebih buas dari perannya di The Great Gatsby.

Sebuah kisah berdasarkan memoar seorang pialang saham Jordan Belfort , yang mendirikan perusahaan investasi Stratton Oakmont dalam garasi di Long Island. Di tahun sembilan puluhan perusahaan ini melakukan penipuan securitas dan pencucian uang menjadi sebuah kekayaan pribadi yang sangat besar. Kekayaan yang diidamkan semua setan di muka bumi. Walaupun pesta berakhir di tahun 1998, tetap saja membuat sebagian besar orang miskin berkerut dahinya menimbulkan tanya, darimana uang sebanyak itu?

Di film ini Martin Scorsese seperti mengajak kita reuni kembali dengan karyanya terdahulu, Good Fellas atau Casino. Ini seperti sebuah trilogy longgar yang memiliki satu kesamaan, “American Dreaming”. Hedonisme, sex, drugs, and rock and roll ( tidak terlalu rock n roll sebenarnya, karena music yang dipakai adalah lagu dari Madness dan Simon & Garfunkel ).

Dengan uang semua kegilaan bisa dibeli, walaupun memulai karir sebagai anjing pesuruh, Belfort membuktikan dengan semangat kerja keras, kecerdikan, dan sedikit keberuntungan kita bisa menjadi seorang serigala. Durasi film selama 3 jam seolah terasa sebentar. Kita disuguhi adegan adegan gila seperti marching band bugil di kantor, xanax dan morphin di setiap menit, pesta sex di kantor, atau mengendarai helicopter dalam keadaan mabuk. Akting Jonah Jill sebagai Donnie Azoff juga cukup menjanjikan, jauh lebih keren daripada aktingnya di film 21 Jump Street. Ini benar-benar film kafir yang merusak keimanan. Film kafir yang komikal. Film kafir yang saya prediksi meraih Oscar di tahun 2013.

Mengingat kembali ucapan Friedrich Nietzsche yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”, saya pikir film ini mendukung teori tersebut. Tuhan baru telah muncul, dialah uang, serigala bagi setiap manusia.

-ivan hadi-

HER (2013)

her

Kesepian adalah penyakit akut yang mewabah di masyarakat urban, satu sama lain sibuk dengan urusannya masing masing.

Social media mungkin solusi dalam silaturahmi era modern. Tapi fuck untuk social media, kamu tidak benar benar bertatap muka dengan teman-temanmu atau gebetanmu. Ada rasa yang hilang dalam sebuah pertemuan, feel dan sensitivitas tak mungkin sama dengan tatap muka langsung. Semua terasa datar, sedatar layar sentuhmu. Sticker-sticker emoticon dan kalimat gombal tak mendeskripsikan realitas, namun anehnya kita terjerumus didalamnya dan membuatnya seakan nyata.

Theodore Twombly (diperankan sangat baik oleh Joaquin Phoenix) seorang introvert yang sangat kesepian tanpa teman hidup dan sedang dalam proses perceraian. Ia kemudian membeli sebuah software dengan artificial intellegence yang didesign untuk berperilaku layaknya manusia. Program itu menamakan dirinya Samantha (diisi oleh suara seksi Scarlett Johansson).

Kesepian membuat Theodore merasa nyaman dengan Samantha, ia jatuh cinta pada Samantha. Theodore menjadi lebih ceria saat bersama Samantha, dia wanita yang sangat pengertian, pintar, dan penuh kejutan. Dialah wanita yang selama ini diidam-idamkan Theodore, wanita tak berfisik yang tinggal dalam komputer, sebuah program.

Apakah Theodore gila? bukankah cinta memang selalu membuat orang menjadi gila. Lalu siapa yang normal? kita?

Mungkin kita sama gilanya dengan Theodore, bisa merasa nyaman saat curhat di social media, bisa tersentuh hanya dengan sebuah emoticon berbentuk hati. Apakah itu bukan sebuah perasaan jatuh cinta pada program komputer ?

Di masa depan tampaknya cinta 2.0 bukanlah hal yang aneh. Lihatlah hari ini, sudah ada “simi”  sebuah chat program untuk orang orang kesepian, atau lihatlah situs chat sex yang luar biasa banyaknya tersebar di internet.

Spike Jonze benar benar cerdas menangkap realita ini, menyuguhkannya dalam alur yang tak bertele-tele tapi kaya makna. Ditambah scoring yang pas dari Arcade Fire, tampaknya film ini wajib anda tonton. Ditonton dalam kesendirian bersama kopi, sambil sesekali tak lupa update status di social media.

 

-ivanhadi-